WARGA MINTA KAPOLRES LOTENG DICOPOT

MATARAM,PILARNTB.com – Penyelesaian kasus pembakaran Ketua Walhi NTB, mulai menimbulkan reaksi dari masyarakat.
Senin (18/02/2019) ratusan massa dari Lombok Tengah yang menamakan diri Aliansi Advokasi Pejuang Lingkungan Hidup NTB, Senin menggelar mimbar bebas di depan markas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB). Dalam orasinya massa aksi meminta pihak kepolisian segera mengusut kasus pembakaran rumah dan mobil Direktur Walhi NTB, Murdani beberapa waktu lalu.
Salah seorang peserta aksi, Agusman mengaku kecewa dengan penanganan kasus tersebut. Karena menurutnya sampai saat ini belum bisa mengungkap pelaku mapun dalang dari pembkaran tersebut.
Dikatakannya, pihak kepolisian dalam hal ini Polres Lombok Tengah mengaku telah mengantongi identitas para pelaku. Namun anehnya smpai saat ini para pelaku masih dibiarkan berkeliaran bebas.
“ Kami dengar polisi telah mengantongi identitas para pelaku tetapi kenapa belum juga ditangkap. Kami sangat heran kenapa Polres Lombok Tengah begitu lamban menangani kasus ini,” teriak Agusman yang diikuti dengan teriakan “ Copot Kapolres Lombok Tengah” oleh para peserta.
Orator selanjutnya, Supiandi mengatakan bahwa pihak kepolisian selama ini diketahui telah mampu mengungkap banyak kasus kasus terorisme, korupsi, dan lainnya. Hanya saja untuk kasus ini pihak kepolisian menjadi lembek dan terkesan tidak mampu.
“ Kasus-kasus besar seperti teror bom Bali yang meluluhlantakkan segalanya sampai barang bukti pun telah lenyap bisa diungkap. Tapi kenapa pelaku kasus recehan seperti penanganannya sangat lamban,” kata Supiandi.
Supiandi mengatakan bahwa kasus pembarakan rumah Murdani adalah tindakan teror bagi penyelamat lingkungan hidup sehigga sudah seharusnya mendapat perhatian serius dari pihak kepolisian.
Atas kejadian ini, lanjut Supiandi, kasus pembakaran mobil dan rumah tersebut telah menimbulkan kerugian materi bagi korban mencapai Rp 300 juta an. Selain itu peristiwa pembakaran tersebut juga telah mengancam keselamatan penghuni rumah. Salah satunya anak dari korban yang masih berusia 4 tahun.

“ Kasus ini merupakan preseden buruk bagi setiap orang yang berperan melindungi lingkungan hidup. Sehingga bagi kami ini bukan tindakan kejahatan luar biasa,” ucapnya.

Pihaknya menduga bahwa peristiwa tersebut erat kaitannya dengan konflik pertabangan pasir galian C antara masyarakat petani dengan pengusaha tambang di desa Menemeng dan Bilebante Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah.
Karena sebelum peristiwa pembakaran tersebut warga sering mendapat teror dan ancaman melaui sms, telpon dan juga sering dibenturkan dengan konflik horizontal dengan cara tuduhan-tuduhan miring yang berkaitan dengan pertambangan pasir.
Selanjutnya demi mendapatkan perlindungan hukum dan keadilan, pada tahun 2016 ancaman tersebut pernah dilaporkan kepada pihak kepolisian namun tidak pernah sitindaklanjuti.
Untuk itu pihaknya meminta kepolisian khususnya Polres Lombok Tengah segera menangkap dan mengadili para pelaku.
Setelah ampir satu jam berorasi, perwakilan Polda NTB menemui massa dan mempersilakan masuk sepuluh orang perwakilan.
Pada kesempatan itu, perwakilan Polda NTB berjanji segala menindaklanjuti segala tuntutan massa aksi.(ide/P01)

Beri rating artikel ini!