banner 728x90

Warga Ditahan, Kades Bilebante Pasang Badan

Ilustrasi

Rakyatul: Kalau tidak Saya Redam Polres Lombok Tengah Sudah Didemo

LOTENGPILARNTB.com – Penyidik Polres Lombok Tengah menahan dua warga Desa Bilebante Kecamatan Pringgarata. Dua warga Bilebante yakni Harul dan Mahsun ditahan oleh setelah keduanya ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pengeroyokan pengacara dalam kasus penyelesaian sengeketa tanah pecatu yang berada di desa Bilebante. Penahanan dilakukan oleh penyidik untuk mempermudah peroses penanganan kasus itu.
Kasatreskrim Polres Lombok Tengah, AKP Priyo Suhartono ketika dikonfirmasi membenarkan sudah ditahannya dua orang tersangka kasus pengeroyokan itu. Dimana keduanya ditahan setelah dilakukan pemeriksaan yang intens. Kemudian petugas membuat surat perintah penangkapan kepada kedua orang yang sudah ditetapkan menjadi tersangka itu. “Benar sudah kita tahan, Selasa kita berikan surat penangkapan dan Rabu kita lakukan penahanan kepada kedua orang ini, dan kasus ini masih kita kembangkan sembari melengkapi berkas yang bersangkutan untuk segera kita ajukan kepada Jaksa,” ungkap AKP Priyo Suhartono, Kamis kemarin (05/03/2020)
Priyo menjelaskan, kedua orang ini terbukti melakukan tindakan kekerasan berupa pengeroyokan saat adanya polemik tanah pecatu yang ada di Desa Bilebante.
“Berkas kedua tersangka masih sedang dilengkapi. Yang jelas setelah kita tetapkan tersangka dan dilakukan pemeriksaan baru kemudian kita buatkan surat penangkapan dan dilakukan penahanan,” terangnya.
Lebih jauh disampaikan, ada indikasi pelaku pengeroyokan lebih dari dua orang. Hanya saja yang sampai dengan saat ini terbukti melakukan pengeroyokan baru dua orang. Namun, tidak menutup kemungkinan pelaku akan bertambah. Hal ini tergantung hasil pemeriksaan atau fakta persidangan apakah ada keterlibatan orang lain atau tidak dalam kasus itu. “Kedua pelaku kita sangkakan melanggar pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dengan ancaman hukuman selama lima tahun penjara,” terangnya.
Pihaknya mengaku, jika kasus ini bermula adanya sengketa lahan yang selama ini dijadikan sebagai tanah pecatu Desa. Hanya saja memang tiba-tiba ada warga yang datang bersama pengacaranya ke kantor desa, dengan niat untuk menguasai lahan itu. Sehingga terjadi kerusuhan dan pengacara ini mendapat pukulan dari warga yang sudah ditetapkan sebagai tersangka ini.
“Jadi kita tahan karena jika kita yang dipukul terus pelakunya kita tidak tahan. Maka pasti kita keberatan,” terangnya.
Pihaknya mengaku dengan sudah ditetapkannya dua orang tersangka dan dilakukan penahanan, tidak membuat petugas selesai dalam mengusut kasus ini. Pihaknya akan menindak tegas jika ada pelaku lain yang terlibat dalam pengeroyokan ini.
“Kita memang sebelum menetapkan kedua tersangka ini. Setidaknya ada delapan orang saksi yang sudah kita periksa. Hasilnya memang dua orang ini yang memiliki bukti yang kuat untuk kita jadikan sebagai tersangka dalam kasus ini,” tegasnya.
Sementara itu Kepala Desa Bilebante, Rakyatulliwaudin sangat menyayangkan penahanan dua warganya tersebut. Pihaknya pun mengaku siap melakukan cara apapun agar warganya bisa dibebaskan.
Ia menjelaska, saat ini penahanan dua tersangka tersebut mulai menyulut emosi pihak keluarga dan warga lainnya. Yang mana warga dari beberapa dusun di Bilebante saat ini berencana mendatangi Polres Lombok Tengah untuk membebaskan keduanya secara paksa dari tahanan. Untungnya rencana tersebut berhasil digagalkan setelah adanya pendekatan kepada keluarga tersangka.
“Kalau tidak saya redam mungkin Polres Lombok Tengah sudah didemo warga kami yang keberatan dengan pemahanan dua tersangka ini. Dua tersangka ini punya keluarga besar dan beberapa diantaranya merupakan preman yang sangat berbahaya. Kalau tidak segera disikapi juga bisa memicu konflik antar warga di Desa Bilebante,” kata Rakyatul.
Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, selaku kepala desa pihaknya telah melayangkan penangguhan penahanan ke Polres Lombok Tengah.
Lagipula, lanjut Rakyatul, kasus ini tidak sepenuhnya kesalahan tersangka. Ia menurutkan, pengeroyokan yang terjadi di Kantor Desa Bilebante sebenarnya dipicu oleh tindakan korban yang terlebih dahulu menodongkan senjata jenis airaoft gun yang kemudian menyulut emosi warga.
“Kalau pengacara itu tidak mengeluarkan senjata pengeroyokan tidak akan terjadi,” kata Rakyatul.
Ia menjelaskan, kasus tersebut berawal dari upaya penguasaan tanah pecatu oleh salah seorang warga. Warga yang tidak terima dengan upaya penguasaan sepihak tersebut kemudian berusaha menghalau warga di lokasi tanah pecatu.
Setelah menunggu mulai pukul 09.00 Wita sampai 11.00 Wita, warga mendapat informasi bahwa massa yang ingin menguasai tanah pecatu tidak langsung ke lokasi melainkan kantor desa.
Warga yang sudah menunggu di lokasi tanah pecatu langsung ke kantor desa. Mengetahui adanya pergerakan massa ke kantor desa, Bhabinkamtibmas setempat mengingatkan para pengklaim untuk menarik massanya dari kantor desa. Sayangnya, pengacara pihak pengklaim justeru masih berada di kantor desa.
Namun saat melihat jumlah massa yang begitu besar, para pengacara tersebut berusaha melarikan diri. Salah satunya yakni korban melarikan diri ke arah Desa Bagu.
Salah seorang warga yang melihat korban langsung melakukan pengejaran. Saat akan ditangkap, korban berusaha menodongkan senjata airsoft gun yang diselipkan di pinggangnya. Dengan sigap warga tersebut kemudian merebut senjata dan meringkus korban dan dibawa kembali ke kantor desa.
Sesampainya di kantor desa, warga tersebut memberitahukan upaya penodongan yang ia alami. Mendengar hal itu ratusan massa naik pitam dan langsung mengeroyok korban.
Selaku kepala desa pihaknya mengaku sudah berusaha mendinginkan keadaan, namun tidak digubris oleh massa.
Kendati demikian korban tidak mengalami luka serius. Adapun luka robek di pelipis korban tidak disebabkan pukulan, melainkan karena korban terjatuh saat menghindari pukulan warga dan membentur pintu salah satu ruangan di kantor desa.
“Photo yang ditunjukkan korban diedit. Banyak saksinya kalau luka robek di pelipis korban bukan kena pukul. Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas ada di lokasi dan akan kita jadikan saksi,” terangnya.
Untuk itu pihaknya meminta Polres Lombok Tengah segera membebaskan warganya dan bisa melihat persoalan ini secara utuh, sehingga kasus ini bisa ditangani secara obyektif dan sesuai ketentuan yang berlaku. (Dar/p01)

Beri rating artikel ini!