BIMA, PilarNTB.com — Ancaman penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Waduwani, Kabupaten Bima, kini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus membenahi sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.

Selama bertahun-tahun, pengelolaan sampah di Kabupaten Bima masih banyak bertumpu pada pola konvensional: sampah dikumpulkan, diangkut, kemudian ditumpuk di tempat pembuangan akhir. Pola yang dikenal sebagai end-of-pipe tersebut dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi volume sampah yang terus meningkat serta tuntutan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. Taufiqurrahman, ST., M.Si., C.SPP, seorang doktor bidang lingkungan dan ahli perencanaan strategis. Menurutnya, persoalan sampah Kabupaten Bima tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperkuat armada pengangkutan atau memperluas tempat pembuangan.

"Persoalan sampah harus diselesaikan sejak dari sumbernya. TPA seharusnya menjadi tempat terakhir bagi residu yang memang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali," demikian gagasan utama yang dikedepankan dalam konsep transformasi pengelolaan sampah melalui Program SAKAKA RASA.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Kabupaten Bima menghasilkan sekitar 244,61 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 74,40 ton per hari disebut masih berakhir di TPA Waduwani.

Sementara itu, sebagian besar sampah lainnya berpotensi tersebar di berbagai lingkungan apabila tidak ditangani melalui sistem pengurangan dan pengelolaan dari sumber.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata persoalan kapasitas TPA. Lebih jauh, persoalannya terletak pada sistem pengelolaan yang belum sepenuhnya mampu melakukan pemilahan, pengurangan, pengolahan, serta pemanfaatan sampah sejak dari rumah tangga.

Apabila seluruh sampah terus diarahkan ke TPA, maka beban terhadap fasilitas tersebut akan semakin besar. Sebaliknya, apabila sampah dipilah sejak dari sumber, maka volume sampah yang harus dibawa ke TPA dapat ditekan secara signifikan.


Selama ini, pola pengelolaan sampah cenderung menempatkan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap sampah masyarakat.

Sampah dari rumah tangga dikumpulkan, kemudian diangkut menggunakan armada dan dibawa menuju TPA. Setelah berada di lokasi akhir, persoalan seolah dianggap selesai.

Padahal, pendekatan tersebut hanya memindahkan persoalan dari satu tempat ke tempat lain.

Konsep SAKAKA RASA menawarkan perubahan paradigma. Pengelolaan sampah tidak lagi dimulai ketika sampah tiba di TPA, tetapi dimulai sejak sampah dihasilkan dari rumah tangga, sekolah, pasar, perkantoran, tempat usaha, hingga lingkungan desa.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penghasil sampah, tetapi juga menjadi bagian penting dari solusi.


SAKAKA RASA merupakan akronim dari Sadar, Aksi, Kolaborasi, Reduksi, Sampah.

Kelima unsur tersebut menjadi fondasi untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

Pertama, Sadar. Masyarakat didorong untuk memahami bahwa sampah bukan semata-mata persoalan pemerintah. Setiap rumah tangga memiliki tanggung jawab untuk mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya.

Kedua, Aksi. Kesadaran harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti memilah sampah organik dan anorganik, mengolah sisa makanan menjadi kompos, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membiasakan penggunaan barang yang dapat dipakai berulang kali.

Ketiga, Kolaborasi. Pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah Kabupaten Bima, Dinas Lingkungan Hidup, kecamatan, pemerintah desa, sekolah, dunia usaha, pasar, komunitas, organisasi masyarakat hingga rumah tangga harus bergerak dalam satu sistem.

Keempat, Reduksi. Sampah yang masuk ke sistem harus dikurangi sejak dari sumbernya. Semakin sedikit sampah yang dihasilkan dan semakin banyak yang dimanfaatkan kembali, semakin kecil pula beban terhadap TPA.

Kelima, Sampah. Sampah harus dipandang bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai material yang sebagian masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Sampah anorganik yang memiliki nilai dapat dikumpulkan melalui bank sampah untuk kemudian dipilah dan didaur ulang. Sementara sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau produk lain yang bermanfaat.

Dengan demikian, hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang pada akhirnya dibawa menuju tempat pemrosesan akhir.


Dalam perspektif tersebut, persoalan TPA Waduwani tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman terhadap keberlangsungan pembuangan sampah.

Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi Kabupaten Bima untuk melakukan perubahan fundamental dalam sistem pengelolaan sampah.

Ketergantungan terhadap TPA harus dikurangi secara bertahap. Pemerintah tidak cukup hanya menambah armada pengangkut atau memperbesar kapasitas tempat pembuangan. Investasi juga perlu diarahkan pada pengurangan sampah, fasilitas pemilahan, pengolahan organik, bank sampah, edukasi masyarakat, serta penguatan sistem pengelolaan di tingkat desa.


Membangun kebiasaan memilah sampah membutuhkan edukasi, keteladanan, konsistensi, fasilitas yang memadai, serta sistem yang memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Karena itu, keberhasilan SAKAKA RASA tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat bersedia menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.


Persoalan sampah pada akhirnya bukan hanya persoalan TPA Waduwani. Ini merupakan persoalan bersama yang berhubungan langsung dengan kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, ekonomi, dan masa depan generasi berikutnya.

Pemerintah Kabupaten Bima telah melakukan sejumlah langkah, termasuk mendorong penguatan anggaran, mengusulkan dukungan kepada pemerintah pusat, serta mendorong jajaran pemerintahan untuk mulai menerapkan pemilahan sampah.

Namun kebijakan tidak akan berjalan maksimal tanpa perubahan perilaku masyarakat.

Karena itu, gagasan SAKAKA RASA menempatkan rumah tangga sebagai titik awal perubahan.

Jika setiap rumah tangga mulai mengurangi, memilah, dan mengolah sampahnya, maka perubahan tidak lagi menjadi sekadar program pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat Kabupaten Bima.

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya tentang bagaimana mempertahankan sebuah TPA agar tetap beroperasi. Lebih dari itu, persoalannya adalah bagaimana Kabupaten Bima membangun sistem pengelolaan lingkungan yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

SAKAKA RASA menawarkan satu arah perubahan: dari membuang menjadi mengelola, dari menumpuk menjadi mengurangi, dan dari bekerja sendiri menjadi bergerak bersama.

Satu rasa, satu tekad, bersama menjaga Bima.



BIMA, pilarNTB.com — Kondisi sarana dan prasarana pendidikan di SD Negeri Runggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, mendapat perhatian serius dari pihak sekolah. Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd., bersama keluarga besar sekolah menyampaikan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, sebagai bentuk ikhtiar untuk mendorong perhatian pemerintah terhadap kondisi ruang kelas yang dinilai membutuhkan perbaikan.

Surat terbuka tersebut disampaikan pada 26 September 2026, dengan membawa harapan agar pemerintah pusat dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan sarana pendidikan di SDN Runggu, khususnya terhadap sejumlah ruang kelas yang kondisinya sudah tidak layak digunakan secara optimal.

Dalam surat tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa persoalan sarana pendidikan bukan semata-mata menyangkut kondisi fisik bangunan. Kondisi ruang belajar yang kurang memadai juga berkaitan dengan aspek keamanan, kenyamanan, kesehatan, serta kualitas proses pembelajaran bagi peserta didik dan guru.

SDN Runggu menjadi salah satu tempat penting bagi anak-anak di wilayah Runggu untuk mendapatkan pendidikan dasar, membangun karakter, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Di tengah keterbatasan tersebut, para guru dan peserta didik tetap berupaya menjalankan kegiatan belajar mengajar. Namun, pihak sekolah berharap kondisi bangunan yang membutuhkan perhatian tidak menjadi hambatan bagi anak-anak dalam memperoleh hak mereka atas pendidikan yang aman, nyaman, layak, dan bermutu.



Melalui surat terbuka itu, Kepala SDN Runggu bersama keluarga besar sekolah meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI beserta jajaran terkait agar dapat memberikan perhatian terhadap kondisi sarana dan prasarana sekolah.

Pihak sekolah juga berharap pemerintah dapat melakukan verifikasi atau peninjauan langsung terhadap kondisi bangunan SDN Runggu, sehingga kebutuhan rehabilitasi maupun pembangunan ruang kelas dapat diketahui secara objektif sesuai kondisi di lapangan.

Adapun beberapa permohonan yang disampaikan dalam surat terbuka tersebut, yakni perhatian terhadap kondisi sarana dan prasarana SDN Runggu, verifikasi kondisi bangunan sekolah, dukungan program rehabilitasi dan/atau pembangunan ruang kelas sesuai kebutuhan, serta dukungan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan layak bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.

“Kami tidak hanya berbicara tentang bangunan, tetapi tentang masa depan anak-anak,” demikian semangat yang menjadi dasar penyampaian surat terbuka tersebut.

Pihak sekolah berharap perhatian pemerintah terhadap SDN Runggu dapat menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi peserta didik di daerah.

Menurut keluarga besar SDN Runggu, setiap ruang kelas yang diperbaiki bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, tumbuh, dan mengejar cita-cita mereka.

Surat terbuka tersebut ditandatangani atas nama Keluarga Besar SD Negeri Runggu, yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, komite sekolah, orang tua/wali peserta didik, serta masyarakat.

Melalui surat tersebut, keluarga besar SDN Runggu menyampaikan harapan agar pemerintah dapat melihat langsung kondisi sekolah dan memberikan solusi sesuai kebutuhan, sehingga proses pendidikan di SDN Runggu dapat berlangsung dalam lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan layak.

“Pendidikan bukan hanya tentang membangun gedung, tetapi membangun manusia dan masa depan bangsa.”


Penulis: Jubair ar-Qamar

Pimpinan redaksi 

Media PilarNTB

 


DONGGO, Media PilarNTB.com— Puskesmas Donggo terus mendorong penguatan perhatian terhadap kesehatan psikologis di lingkungan pendidikan melalui kegiatan fasilitasi pelaksanaan First Aider Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP) bagi satuan pendidikan jenjang SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Donggo, Rabu (23/09/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas lingkungan sekolah dalam memberikan respons awal terhadap peserta didik yang menghadapi persoalan psikologis, tekanan emosional, maupun kondisi yang membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih lanjut.

Kepala Puskesmas Donggo, Sri Hartati, S.Kep., Ns., menekankan pentingnya membangun lingkungan sekolah yang mampu memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik. Menurutnya, kesehatan siswa tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan emosional. Jelasnya

Melalui kegiatan First Aider P3LP, pihak sekolah diharapkan memiliki pemahaman dan keterampilan dasar untuk mengenali tanda-tanda awal permasalahan psikologis pada siswa, memberikan dukungan awal secara tepat, serta mengetahui langkah yang perlu dilakukan apabila seorang siswa membutuhkan penanganan atau rujukan kepada tenaga profesional.

Pendekatan tersebut penting mengingat sekolah merupakan salah satu lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Guru dan tenaga pendidik memiliki kesempatan untuk melihat perubahan perilaku maupun kondisi emosional siswa sehingga dapat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan sejak dini.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat sinergi antara Puskesmas Donggo dan satuan pendidikan tingkat SMP maupun SMA dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, suportif, dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mendapatkan bantuan ketika menghadapi persoalan.

Dengan adanya fasilitasi First Aider P3LP, Puskesmas Donggo berupaya memperluas pemahaman bahwa pertolongan pertama tidak hanya diberikan ketika seseorang mengalami luka secara fisik, tetapi juga diperlukan ketika seseorang menghadapi tekanan atau luka psikologis yang membutuhkan perhatian dan dukungan.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi langkah positif dalam membangun kepedulian terhadap kesehatan psikologis peserta didik sekaligus memperkuat sistem dukungan di lingkungan sekolah.

Media PilarNTB — Mengabarkan Fakta, Mengawal Kepentingan Publik.


 


TAMBE, Media pilarNTB.com— Upaya meningkatkan pengetahuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak terus dilakukan melalui kegiatan Kelas Ibu Balita di Desa Tambe, Rabu(23/09/2026)

Kegiatan tersebut menyasar sebanyak 15 orang ibu yang memiliki balita, dengan materi utama mengenai pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) bagi anak usia 6–12 bulan

Kegiatan ini menjadi salah satu sarana edukasi bagi para ibu untuk memahami pentingnya pemberian makanan yang sesuai dengan usia, kebutuhan gizi, tekstur, porsi, serta frekuensi makan anak, khususnya pada masa awal anak mulai mengenal makanan selain ASI.

Dalam penyampaian materi, para ibu diberikan pemahaman bahwa MP-ASI mulai diperkenalkan ketika anak memasuki usia 6 bulan, karena pada usia tersebut kebutuhan energi dan zat gizi anak mulai meningkat sehingga ASI saja tidak lagi mencukupi seluruh kebutuhan gizinya. Meski demikian, pemberian MP-ASI tetap perlu dilakukan dengan tetap melanjutkan pemberian ASI.

MP-ASI yang diberikan juga perlu memperhatikan prinsip gizi seimbang dan keamanan pangan, dengan mengutamakan bahan makanan yang beragam serta sumber protein hewani dan nabati, sayur, buah, dan sumber energi sesuai kebutuhan anak.

Selain jenis makanan, tekstur MP-ASI juga harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan makan anak. Seiring bertambahnya usia, tekstur makanan dapat ditingkatkan secara bertahap agar anak terbiasa mengunyah dan menerima berbagai jenis makanan.

Melalui Kelas Ibu Balita ini, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pola pemberian makanan sehari-hari di rumah. Pengetahuan orang tua dinilai penting karena kualitas asupan makanan pada masa pertumbuhan turut mendukung tumbuh kembang anak.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para ibu untuk berdiskusi dan memperoleh pemahaman yang lebih tepat mengenai pemberian MP-ASI, sehingga diharapkan dapat mencegah kesalahan dalam pemberian makanan dan membantu memenuhi kebutuhan gizi anak secara optimal.

Dengan adanya edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan di tingkat desa, Kelas Ibu Balita diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam menjaga kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak sejak usia dini.


Penulis: Jubair ar-Qamar 

Pimpinan redaksi PilarNTB 

 


BIMA, media PilarNTB.com— Suasana penuh kebanggaan dan haru mewarnai pelaksanaan upacara di SDN Runggu Senin (21/09/2026). Sejumlah petugas upacara yang tampil di hadapan seluruh warga sekolah merupakan siswa kelas 1 dan 2 yang masih berada pada tahap awal belajar keberanian, kedisiplinan, dan rasa percaya diri.

Meski masih tergolong sangat muda, para siswa tersebut mampu menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Mereka berdiri di hadapan guru dan seluruh siswa, melaksanakan setiap tugas dalam rangkaian upacara dengan semangat dan keberanian.

Bagi Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd, penampilan anak-anak tersebut bukan sekadar bagian dari pelaksanaan upacara rutin. Lebih dari itu, keberanian mereka tampil di depan umum merupakan proses penting dalam membentuk karakter dan kepercayaan diri sejak usia dini.

“Bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kami, keberanian anak-anak untuk tampil di depan merupakan sebuah pencapaian yang patut diapresiasi,” demikian semangat yang tergambar dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.



Menurutnya, anak-anak perlu diberikan ruang untuk mencoba, belajar bertanggung jawab, dan berani tampil sejak dini. Dari pengalaman sederhana seperti menjadi petugas upacara, mereka belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab, sekaligus keberanian menghadapi banyak orang.

Kebanggaan pun terlihat dari semangat warga sekolah menyaksikan penampilan para petugas cilik tersebut. Meski masih kecil dan masih dalam proses belajar, mereka telah menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu datang dari usia, tetapi dapat tumbuh ketika anak diberikan kepercayaan dan kesempatan.

Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd, terus mendorong agar para siswa tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, berkarakter, disiplin, dan memiliki semangat untuk belajar.

Hari ini mereka mungkin baru berdiri di depan sebagai petugas upacara. Namun dari langkah kecil itulah, mereka sedang belajar mempersiapkan diri untuk berdiri lebih jauh dalam mengejar cita-cita dan masa depan. Ungkapnya



 


BIMA, media pilarNTB.com   Upaya membangun kesadaran hidup sehat dan pemenuhan gizi di kalangan remaja terus digencarkan. Puskesmas Bolo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bima melaksanakan Gerakan Aksi Bergizi, yang dirangkaikan dengan kegiatan minum Tablet Tambah Darah (TTD) secara serentak bagi siswa dan siswi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bolo dan SMP Negeri 2 Bolo, dengan melibatkan peserta didik serta pihak sekolah sebagai bagian dari gerakan bersama dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan gizi sejak usia remaja.

Gerakan Aksi Bergizi menjadi momentum penting untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika sakit, tetapi juga bagaimana menjaga tubuh melalui pola hidup sehat, asupan makanan bergizi seimbang, serta kebiasaan yang mendukung tumbuh kembang remaja.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah minum Tablet Tambah Darah secara serentak dengan pendampingan tenaga kesehatan dan pihak sekolah. Pemberian TTD merupakan salah satu upaya pencegahan anemia pada remaja, terutama remaja putri yang memiliki kebutuhan zat besi lebih tinggi.

Anemia pada remaja perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kondisi fisik dan konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, edukasi mengenai pentingnya asupan gizi dan konsumsi TTD menjadi bagian penting dalam membangun generasi muda yang sehat dan produktif.

Kolaborasi antara Puskesmas Bolo, Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, dan pihak sekolah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Edukasi kesehatan diharapkan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga para pelajar mampu menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Gerakan Aksi Bergizi tersebut, para siswa juga didorong untuk memiliki kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah menjadi salah satu lingkungan strategis untuk menanamkan kebiasaan positif sekaligus membentuk perilaku hidup sehat sejak dini.

Kegiatan di SMP Negeri 1 Bolo dan SMP Negeri 2 Bolo ini sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara sektor kesehatan dan pendidikan dalam mendukung kualitas generasi muda.

Dengan gerakan yang dilakukan secara bersama dan berkelanjutan, diharapkan para pelajar di Kecamatan Bolo dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, aktif, produktif, dan memiliki kesadaran kuat terhadap pentingnya gizi serta kesehatan diri.

 


BIMA, media  pilarNTB.COM — Upacara bendera yang digelar di SMP Negeri 5 Palibelo, Kabupaten Bima, Senin (14/9/2026), dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Nurwahidah, S.Pd. Dalam kesempatan tersebut, kepala sekolah menegaskan pentingnya kedisiplinan guru dan siswa sebagai bagian dari upaya menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan tertib.

Salah satu penekanan yang disampaikan adalah terkait kedisiplinan jam pulang guru. Kepala sekolah meminta agar guru tidak meninggalkan sekolah sebelum waktu yang telah ditentukan, terutama ketika masih terdapat kegiatan dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan bersama siswa.

Menurut Nurwahidah, kedisiplinan guru sangat penting karena guru merupakan figur yang menjadi contoh bagi peserta didik.

Selain persoalan jam kerja, pihak sekolah juga mendorong guru untuk melakukan pengawasan terhadap perlengkapan yang dibawa siswa ke sekolah. Barang-barang yang tidak berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran, seperti bedak, gincu atau perlengkapan kosmetik lainnya, diharapkan tidak dibawa ke lingkungan sekolah apabila tidak memiliki kepentingan dalam kegiatan pendidikan.

Langkah tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk membatasi siswa, tetapi sebagai bagian dari pembinaan disiplin agar peserta didik dapat lebih fokus mengikuti proses belajar mengajar.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan membaca dan memahami isi bacaan, SMPN 5 Palibelo juga mulai menerapkan program literasi yang dijadwalkan setiap Selasa dan Rabu.

Program tersebut berlangsung selama 40 menit. Dari waktu tersebut, sekitar 10 menit digunakan siswa untuk membaca, sedangkan 30 menit berikutnya digunakan untuk menyimpulkan dan menyampaikan kembali pemahaman terhadap bahan bacaan yang telah dibaca.

Kepala sekolah menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan membiasakan siswa membaca, tetapi juga untuk melihat sejauh mana perkembangan kemampuan mereka dalam memahami serta mengolah informasi.

Dengan demikian, siswa tidak sekadar membaca, tetapi juga dituntut mampu memahami isi bacaan dan mengungkapkan kembali apa yang telah mereka dapatkan.

Selain program literasi, sekolah juga menekankan pelaksanaan shalat Zuhur berjamaah yang dilakukan secara rutin setiap hari.

Nurwahidah menegaskan, kedisiplinan guru berkaitan erat dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Guru diharapkan tetap berada di sekolah dan ikut mengoordinasikan siswa ketika memasuki waktu shalat.

Sekitar pukul 12.00 WITA, siswa akan diarahkan menuju mushola untuk mempersiapkan pelaksanaan shalat Zuhur berjamaah.

"Itulah tujuan saya menertibkan guru. Kalau guru-gurunya pulang duluan, lalu siapa yang akan mengoordinasikan anak-anak?" tegas Nurwahidah.

Menurutnya, keberadaan guru sangat dibutuhkan untuk memastikan kegiatan siswa tetap berjalan tertib, termasuk dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah.


Untuk memperkuat pengawasan selama proses pembelajaran, pihak sekolah juga menerapkan kebijakan penguncian gerbang sekolah pada jam belajar.

Kebijakan tersebut bertujuan mencegah siswa keluar-masuk lingkungan sekolah tanpa alasan yang jelas selama kegiatan belajar berlangsung. Dengan pengawasan yang lebih ketat, sekolah berharap suasana pembelajaran dapat berlangsung lebih aman, tertib dan kondusif.

Kepala sekolah berharap seluruh aturan tersebut dapat dipahami dan dilaksanakan bersama, baik oleh guru maupun siswa.

Menurutnya, kedisiplinan tidak boleh hanya dibebankan kepada peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik juga harus memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

"Guru itu adalah contoh bagi anak-anak. Saya tidak mau guru-guru kesayangan saya di sini justru menjadi contoh yang kurang baik bagi anak-anak didik saya," ungkapnya.

Nurwahidah berharap penerapan berbagai aturan dan program tersebut ke depan dapat membangun budaya disiplin di SMPN 5 Palibelo. Dengan guru yang disiplin dan siswa yang tertib, proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih efektif sehingga tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai dengan lebih baik.


Penulis Jubair ar-Qamar 

PILARNTB.COM — Disiplin, Literasi, dan Keteladanan untuk Pendidikan yang Lebih Baik.

Diberdayakan oleh Blogger.